Setiap pagi, Muhammad Husein memanggul keranjang berisi jajanan basah dan gorengan. Dengan langkah pincang akibat polio sejak kecil, ia berjalan kaki menyusuri jalanan Buleleng, menembus panas dan hujan, menawarkan dagangan sambil bersuara lirih,
“Kue… kue…”

Tubuhnya kurus, wajahnya penuh peluh, namun semangatnya tak pernah padam. Di bawah terik matahari, ia terus melangkah, menahan nyeri di kakinya yang tidak normal sejak lahir. Kadang, ketika rasa sakit sudah tak tertahankan, ia berhenti di pinggir jalan untuk memijat kakinya sendiri, lalu kembali berdiri dan melanjutkan langkah dengan senyum kecil.
Husein hidup bersama ibunya yang sudah lanjut usia dan tiga orang adiknya yang masih sekolah. Sejak ayahnya meninggal, beban keluarga berada di pundaknya. Meski tubuhnya lemah, Husein memikul tanggung jawab besar untuk menafkahi ibu dan membiayai pendidikan adik-adiknya. Ia tak ingin mereka bernasib sama sepertinya yang terpaksa berhenti sekolah karena tak punya biaya.
Setiap hari, ia berangkat pagi-pagi membawa kue buatan sederhana. Ia berkeliling dari kampung ke kampung, menawarkan dagangan kepada siapa pun yang ditemuinya. Sering kali, orang hanya lewat tanpa menoleh. Kadang, setelah seharian berjalan, dagangannya hanya terjual setengah. Namun ia tetap bersyukur.

Baginya, setiap kue yang laku adalah rezeki yang dikirim Allah untuk keluarganya.Husein tak punya waktu untuk mengeluh. Saat orang lain beristirahat, ia justru menyiapkan bahan untuk dagangan esok hari bersama ibunya. Malam-malam panjang ia habiskan dengan menghitung uang hasil jualan, memastikan cukup untuk membeli beras dan kebutuhan sekolah adik-adiknya. Jika tidak, ia akan menunda makan agar uangnya tidak habis.
Pernah suatu hari, hujan turun deras ketika ia masih di jalan. Kakinya tergelincir, tubuhnya jatuh bersama keranjang jualan. Kue-kue itu berserakan di jalan yang becek, namun Husein tetap memungutnya satu per satu sambil menahan air mata. Tak ada yang berhenti menolong. Di tengah hujan, ia berdiri lagi dan berjalan pulang dengan langkah tertatih.
Meski hidupnya keras, hatinya lembut. Husein tak pernah menyalahkan siapa pun atas nasibnya. Ia percaya bahwa setiap langkah berat yang ia jalani adalah bagian dari ujian menuju keberkahan.
Kini, di usia 25 tahun, Husein terus berjuang tanpa lelah. Ia hanya berharap bisa terus berdagang agar ibu dan adik-adiknya tak kekurangan makan dan bisa melanjutkan sekolah.
Mari bersama membantu Husein meringankan beban hidupnya. Uluran tangan kita adalah bentuk kasih untuk seorang anak yang tidak pernah menyerah, meski dunia seolah berpaling darinya.
Baca selengkapnya ▾