
Setiap hari, Nenek Sareat menghabiskan waktunya membuat sapu lidi dari pelepah kelapa. Dengan tangan yang mulai keriput dan tenaga yang tak lagi sekuat dulu, beliau merangkai satu demi satu sapu dengan penuh kesabaran.
Setelah beberapa hari terkumpul, Nenek akan berkeliling menitipkan sapu-sapu itu ke warung-warung sekitar. Sayangnya, sapu yang dibawa tidak selalu laku terjual. Kalaupun laku, keuntungan yang didapat hanya sekitar Rp1.000 hingga Rp2.000 per buah.
Penghasilan yang sangat kecil itu harus cukup untuk menghidupi empat cucunya.
Di usia senja, Nenek Sareat tak hanya berjuang untuk dirinya sendiri. Beliau harus memastikan keempat cucunya bisa makan setiap hari dan tetap bersekolah agar memiliki masa depan yang lebih baik.
Perjuangan itu harus dijalaninya dengan tubuh yang makin melemah.

Nenek telah lama ditinggal wafat suaminya. Ujian kembali datang ketika anak perempuannya juga menjadi seorang janda. Keterbatasan ekonomi membuat beban keluarga akhirnya bertumpu di pundak Nenek Sareat.
Meski tubuhnya semakin renta, Nenek memilih tetap bekerja. Sebab beliau tahu, jika berhenti membuat sapu lidi, dapur bisa tak lagi mengepul dan cucu-cucunya terancam kehilangan kesempatan untuk terus belajar.
Sobat Baik, tidak seharusnya seorang nenek menanggung beban seberat ini sendirian.
Mari bersama menjadi penyambung harapan untuk Nenek Sareat dan keempat cucunya. Bantuan yang kita titipkan akan membantu memenuhi kebutuhan pangan, biaya pendidikan, serta kebutuhan hidup sehari-hari, sehingga Nenek tidak lagi harus memikul semuanya seorang diri.
Semoga setiap rupiah yang kita sedekahkan menjadi jalan rezeki bagi Nenek Sareat dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir untuk kita.
Klik tombol DONASI sekarang dan jadilah bagian dari harapan baru bagi keluarga kecil ini.
![]()
Belum ada Fundraiser